Unit PPKPT USK

Bangun Kesadaran, Perkuat Perlindungan: PPKPT USK Gelar Workshop Pencegahan Kekerasan

Banda Aceh – Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (SATGAS PPKPT) Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan Workshop Peningkatan Pemahaman dan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi pada Kamis, 9 April 2026, bertempat di Aula Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Universitas Syiah Kuala dalam mewujudkan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan berintegritas. Melalui kegiatan ini, sivitas akademika didorong untuk meningkatkan pemahaman serta berperan aktif dalam mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

Workshop ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor III Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., yang hadir pada pembukaan kegiatan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan kampus.

Rangkaian kegiatan diisi dengan pemaparan materi oleh narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, S.H., M.H., selaku Kepala Subaudit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan serta Isu Strategis Universitas Syiah Kuala; Gannis Eka Pramita Sari, selaku Auditor Ahli Pertama Inspektorat Jenderal Kemdiktisaintek; serta Aditya Rivaldy, S.H., LL.M., selaku Ketua SATGAS PPKPT Universitas Syiah Kuala.

Dalam pemaparan materi, para narasumber menekankan pentingnya penanganan kasus kekerasan yang dilakukan secara sistematis, berlandaskan prosedur yang jelas, serta menjunjung tinggi prinsip keadilan dan perlindungan korban. Pemahaman mengenai mekanisme penerimaan laporan, tahapan penanganan, dan pembagian peran masing-masing pihak menjadi bagian penting dalam membangun sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang efektif dan berkelanjutan.

Kehadiran Wakil Rektor III juga menegaskan pentingnya dukungan pimpinan universitas dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika. Sementara itu, Ketua SATGAS PPKPT USK menekankan bahwa upaya pencegahan dan penanganan kekerasan membutuhkan kolaborasi, kepedulian, serta keberanian seluruh elemen kampus untuk saling menjaga dan melindungi.

Sebagai bagian dari pengembangan layanan yang lebih dekat dengan mahasiswa, kegiatan ini turut menjadi momentum peluncuran Program “Ngobrol Yuk”. Program ini dihadirkan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk berbagi cerita, menyampaikan permasalahan, dan memperoleh dukungan secara suportif dengan tetap memperhatikan prinsip kerahasiaan. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan semakin terdorong untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan tanpa merasa takut atau khawatir akan penilaian dari orang lain.

Selain peluncuran program tersebut, turut diperkenalkan maskot resmi Konselor Sebaya, “Si Meulu”, yang terinspirasi dari bunga meulu atau melati Aceh. Si Meulu merepresentasikan kesucian, empati, dan ketulusan yang menjadi nilai penting dalam memberikan dukungan serta pendampingan kepada mahasiswa. Kehadiran maskot ini diharapkan dapat membangun kesan yang ramah dan dekat dengan mahasiswa, sekaligus mendorong mereka agar lebih berani bercerita dan mencari bantuan ketika membutuhkan dukungan.

Melalui kegiatan ini, SATGAS PPKPT USK berharap peningkatan pemahaman mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan dapat diikuti dengan tindakan nyata dalam kehidupan kampus sehari-hari. Penguatan sistem, pengembangan layanan, dan keterlibatan aktif seluruh sivitas akademika diharapkan mampu menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Informasi lebih lanjut mengenai program dan layanan SATGAS PPKPT Universitas Syiah Kuala dapat diakses melalui akun Instagram resmi @ppkpt.usk.

Pada akhirnya, kampus yang aman tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan sistem yang kuat, tetapi juga melalui kepedulian, keberanian untuk mencari dan memberikan bantuan, serta komitmen bersama untuk saling menghormati dan melindungi.

Ketika Pikiran, Juga Membutuhkan Istirahat Ketika Pikiran,

Konselor Sebaya : Fadhil Firliansyah
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Memasuki bulan April, pengalaman sebagai konselor sebaya kembali memberikan pembelajaran dan wawasan baru bagi saya. Pada bulan ini saya lebih banyak mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan konseling dan fenomena psikologis yang sering terjadi di lingkungan mahasiswa. Dari proses tersebut saya mulai menyadari bahwa kesehatan mental merupakan hal yang penting dan perlu mendapatkan perhatian yang sama seperti kesehatan fisik.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah fenomena burnout akademik yang cukup sering dialami mahasiswa. Tuntutan tugas kuliah, kegiatan organisasi, tanggung jawab pribadi, serta berbagai ekspektasi yang dimiliki terkadang membuat seseorang merasa lelah secara fisik maupun emosional. Sebelumnya saya menganggap kelelahan hanya terjadi karena terlalu banyak aktivitas, tetapi setelah mempelajarinya lebih jauh saya mulai memahami bahwa kelelahan mental juga dapat memengaruhi semangat, konsentrasi, bahkan motivasi seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain burnout, saya juga mempelajari fenomena overthinking yang sering dialami oleh mahasiswa. Banyak orang terkadang terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, seperti rasa takut gagal, khawatir terhadap masa depan, atau merasa cemas terhadap penilaian orang lain. Saya menyadari bahwa fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa karena sering kali seseorang menuntut dirinya untuk selalu mencapai hasil yang sempurna. Dari pembelajaran tersebut saya memahami bahwa penting untuk belajar mengelola pikiran dan emosi agar tidak memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri.

Pengalaman pada bulan April ini membuat saya melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Saya menyadari bahwa terkadang saya juga pernah mengalami rasa lelah, cemas, atau terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan. Dari situ saya belajar bahwa setiap orang memiliki tantangan masing-masing dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan atau berbagi cerita kepada orang lain ketika merasa kesulitan. Saya berharap pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan selama bulan ini dapat menjadi bekal bagi saya untuk terus berkembang menjadi konselor sebaya yang lebih baik serta menjadi pribadi yang lebih peka terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Dari Laporan hingga Rekomendasi Sanksi, PPKPT USK Perkuat Kompetensi Penanganan Kasus Kekerasan

Banda Aceh – Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan pelatihan bertajuk “Terampil Menangani Kasus Kekerasan di Kampus: Dari Laporan hingga Rekomendasi Sanksi” pada Rabu, 8 April 2026, bertempat di Nutri Hub Banda Aceh.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam memahami dan menangani kasus kekerasan di lingkungan perguruan tinggi secara komprehensif, mulai dari penerimaan laporan, verifikasi, asesmen, hingga penyusunan rekomendasi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidangnya, yaitu Gannis Eka Pramita Sari, selaku Auditor Ahli Pertama Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), serta Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, S.H., M.H., selaku konsultan pencegahan dan penanganan kekerasan serta isu strategis.

Dalam sesi pemaparan materi, para narasumber memberikan penjelasan mengenai prosedur penanganan kasus kekerasan di perguruan tinggi, termasuk tahapan pemeriksaan, penyusunan rekomendasi, serta pentingnya penerapan pendekatan yang berperspektif korban. Pemahaman tersebut menjadi bekal penting bagi peserta agar setiap tahapan penanganan kasus dapat dilaksanakan secara profesional, objektif, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Selain pemaparan materi, pelatihan ini juga dilengkapi dengan sesi praktik melalui metode role play. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk menyimulasikan proses penanganan kasus secara langsung, sehingga dapat mengasah keterampilan dalam merespons laporan, melakukan klarifikasi, dan memahami tahapan penanganan kasus secara lebih aplikatif.

Melalui kegiatan ini, PPKPT USK berharap peserta dapat mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pelaksanaan tugas penanganan kasus kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan turut memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan serta mendukung terciptanya lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen USK untuk terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam pencegahan dan penanganan kekerasan, sekaligus mewujudkan lingkungan pendidikan tinggi yang menjunjung tinggi rasa aman, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu.

Tidak Apa-Apa untuk Tidak Langsung Baik-Baik Aja

Konselor Sebaya : Khansa Khairatun Hisan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Ada kalanya kita ingin semua hal beres secepatnya. Rasa hampa, rasa capek, serta tumpukan beban di dalam dada, semuanya ingin buru-buru kita hilangkan agar kita bisa kembali merasa “baik-baik saja”. Padahal, tidak semua perasaan harus dipaksa pergi dengan segera. Kadang-kadang, hal yang paling kita butuhkan justru adalah ruang untuk benar-benar merasakannya terlebih dahulu, tanpa harus terburu-buru mencari jalan keluar.

Kita bisa belajar dari pesan yang disampaikan oleh Tulus dalam salah satu lagunya. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang kosong itu harus segera diisi, dan tidak semua yang berat harus selesai hari ini juga. Ada proses di dunia ini yang memang membutuhkan waktu untuk berproses. Mengambil jeda bukan berarti kita lemah, melainkan sebuah tanda bahwa kita sedang jujur dan lembut pada diri sendiri.

Jadi, kalau hari ini langkahmu terasa begitu berat, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Tidak apa-apa jika kamu belum langsung memiliki jawaban atas semua tanya. Masalah yang paling rumit sekalipun biasanya tidak akan selesai dengan cara tergesa-gesa. Semua itu akan terurai melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, beriringan dengan hati yang mau diberikan waktu untuk pulih secara perlahan.

Bertahan tapi Hilang vs Pergi untuk Bertumbuh

Konselor Sebaya : Khansa Khairatun Hisan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Sadar nggak, sih? Kadang kita tetap di suatu tempat bukan karena tempat itu cocok buat kita, tapi hanya karena kita sudah terbiasa sama kondisinya. Kita udah hafal polanya, sudah paham bagaimana cara berpura-pura “baik” di sana, sampai akhirnya kita jadi berpikir: “Oh, aku aman di sini”.

Padahal, nyaman dan sehat itu dua hal yang sangat berbeda. Sayangnya, kita sering baru sadar terlambat bahwa tempat yang kita anggap sebagai “rumah” sebenarnya perlahan-lahan merusak diri kita dari dalam.

Lingkungan yang buruk itu tidak selalu diisi dengan teriakan atau peristiwa heboh, lho. Kadang dia datangnya diem-diem banget. Melalui circle yang membuat kita merasa “gini-gini aja gapapa deh”, melalui kebiasaan yang menghentikan kita berkembang, atau melalui hubungan yang membuat kita merasa rendah dan tidak berharga. Karena sudah terlalu lama di sana, kita jadi menganggap kondisi itu sebagai hal yang biasa. Padahal? Itu hanya zona nyaman yang salah kita anggap aman.

Berani keluar dari situ memang tidak mudah. Pasti ada perasaan takut kehilangan, takut sendirian, atau takut tidak punya tempat lain untuk pulang. Tapi, bertahan di tempat yang salah cuma karena takut berubah itu sama aja kayak kita milih buat kehilangan diri sendiri secara perlahan, demi rasa aman yang semu.

Kamu berhak hidup di lingkungan yang membuatmu berkembang, bukan lingkungan yang terus-menerus membuatmu harus bertahan agar tetap sehat. Kalau merasa susah banget untuk melangkah keluar, ingat saja bahwa kamu nggak harus melakukannya sendirian. Tidak apa-apa jika Langkah pertamamu adalah mencari tempat untuk bercerita dan meminta bantuan. Dan kalau saat ini kamu bingung mencari tempat untuk bercerita, PPKPT bisa jadi salah satu tempat yang kamu tuju. kami selalu di sini, siap dengerin dan bantu kamu.

Langkah Pertama, Cerita Baru

Konselor Sebaya : Fadhil Firliansyah
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pengalaman selama sebulan pertama sebagai konselor sebaya ppkpt memberikan warna baru bagi saya yang sebelumnya hanya sibuk dengan rutinitas sebagai mahasiswa yang berhdapan dengan tugas kuliah dan adik-adik MKPK sekarang ada rutinitas baru yaitu sebagai konselor sebaya. Saya ambil kesempatan ini sebagai wadah untuk berkembang dan mencari pegalaman yang harapannya bisa berguna ke depan untuk disiplin ilmu yang saya ambil yaitu bimbingan konseling. Di bulan pertama ini saya dan teman-teman konselor sebaya yang lain ikut mempersiapkan workshop yang diadakan oleh ppkpt dengan pemateri yang luar biasa dan memberikan banyak insight terkait dengan kasus-kasus pelecehan yang terjadi di perguruan tinggi di indonesia dan juga bagaimana bentuk-bentuk pelecehan seksual. Workshop ini membuat saya harus meningkatkan kesadaran dan juga kewaspadaan terkait dengan maraknya kasus pelecehan yang terjadi di sekitar kita jangan sampai orang terdekat atau bahkan diri sendiri menjadi pelaku dari hal tersebut naudzubillah.

Kegiatan yang telah saya jalani selama bulan pertama ini juga menambah relasi dan pengalaman baru. Saya dapat bertemu dengan teman-teman dan kakak-kakak konselor sebaya yang luar biasa ramah dan menyenangkan kami saling memberikan ide dan pertanyaan kemudian didiskusikan. Dari proses tersebut saya belajar bahwa setiap orang memiliki cara berpikir dan cara memandang yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut justru memberikan banyak pembelajaran baru bagi saya untuk menjadi pribadi yang lebih terbuka dan menghargai pendapat orang lain.

Pengalaman di bulan pertama ini memberikan kesan yang baik bagi saya. Meskipun masih banyak hal yang perlu saya pelajari dan tingkatkan, saya merasa bersyukur dapat menjadi bagian dari konselor sebaya ppkpt. Saya berharap ke depannya saya dapat terus berkembang, menambah pengetahuan dan pengalaman, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Saya juga berharap dapat menjalankan peran ini dengan baik sehingga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa bimbingan dan konseling.

Makna Pakaian Perempuan Saat Lebaran: Lebih dari Sekadar Tren dan Gengsi?

Konselor Sebaya : Luk Luk Nurul Ahyani
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Lemari pakaian sering kali dianggap sebagai tempat menyimpan kain semata. Namun, jika kita melihat lebih dalam, setiap helai pakaian yang dipilih perempuan adalah sebuah bahasa visual. Menjelang Hari Raya Lebaran, urgensi memilih pakaian ini sering kali meningkat drastis. Sayangnya, momen spiritual ini kerap tereduksi menjadi panggung kompetisi mode musiman, di mana ada tekanan sosial yang seolah mewajibkan perempuan untuk tampil dengan baju baru yang seragam mengikuti tren viral.

Dalam sosiologi, ada konsep yang dikenal sebagai Enclothed Cognition sebuah teori yang menjelaskan bahwa pakaian yang kita kenakan secara langsung memengaruhi proses psikologis dan cara kita berpikir. Bagi perempuan, pakaian di hari Lebaran seharusnya menjadi refleksi dari kemenangan spiritual dan rasa syukur, bukan beban finansial demi validasi sosial.

Satu catatan penting yang sering dilupakan: Lebaran tidak selalu tentang baju baru, dan label harga yang mahal tidak pernah menjadi indikator bahwa seseorang lebih baik atau lebih bertakwa dalam segala hal.

Esensi Fitri vs. Ilusi Gengsi Hari Raya

Kita hidup di era di mana logo desainer mewah atau gamis sutra mahal saat Lebaran sering kali disalahartikan sebagai simbol kesuksesan mutlak. Faktanya:

  • Kemenangan Diri, Bukan Transaksi: Mengenakan pakaian mewah berharga jutaan rupiah saat silaturahmi tidak otomatis membuat seseorang memiliki keluhuran budi, ketulusan maaf, atau empati yang lebih tinggi. Pakaian mahal hanya membungkus fisik, bukan membersihkan hati.
  • Keberlanjutan dan Kreativitas: Perempuan yang memahami esensi mode dan dirinya tidak akan mendikte kebahagiaan Lebaran lewat seberapa baru pakaiannya. Memadupadankan pakaian lama yang dirawat dengan baik (mix and match) justru menunjukkan kecerdasan emosional dan kematangan finansial.

Pakaian terbaik perempuan di hari Lebaran bukanlah yang paling mahal atau yang baru keluar dari butik, melainkan yang paling jujur dalam merepresentasikan kedamaian hatinya setelah satu bulan berproses. Tren Lebaran akan berganti setiap tahunnya, namun kesederhanaan, keanggunan, dan keluhuran sikap adalah esensi Idul Fitri yang sesungguhnya yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan label harga seberapa pun mahalnya.

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN!!!

Anak Perempuan pertama

Konselor Sebaya : AURA MERIA MAITASHA
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Pernah mendengar, kalau anak perempuan pertama di rumah itu sebenarnya adalah “asisten rumah tangga tanpa gaji” sekaligus “wakil kepala sekolah” bagi adik-adiknya? Premis itu ternyata tidak bercanda. Beberapa riset psikologi belakangan ini mengonfirmasi sesuatu yang selama ini hanya jadi gumaman di kamar mandi, anak perempuan tertua sering kali memegang rekor tingkat stres tertinggi di rumah. Bahkan, dalam urusan tekanan mental akut, skor mereka bisa melompat jauh melampaui beban emosional yang dipikul oleh ibunya sendiri. Ini bukan kompetisi siapa yang paling menderita, tapi ini tentang struktur peran yang timpang.

Mengapa bisa se-ekstrem itu? Jawabannya ada pada jebakan bernama parentification. Sejak kecil, anak perempuan pertama sudah disuntik doktrin tak tertulis untuk menjadi “contoh”. Namun, karena gender mereka perempuan, beban itu otomatis bertambah dengan urusan domestik dan manajemen emosi keluarga. Mereka dituntut menjadi dewasa sebelum waktunya. Ketika sang ibu lelah atau stres, anak perempuan pertamalah yang biasanya dijadikan tempat curhat atau back-up emosional. Ironisnya, mereka harus menanggung tanggung jawab selevel orang tua, tapi tanpa memiliki otoritas atau hak veto untuk mengatur hidup mereka sendiri. Mereka adalah pekerja keras di dalam sistem, tapi tanpa posisi tawar.

Dampak dari “latihan menjadi dewasa” yang terlalu dini ini menciptakan monster baru saat mereka beranjak dewasa: hyper-independence yang melelahkan. Anak perempuan pertama sering kali tumbuh menjadi manusia yang haram hukumnya terlihat lemah atau meminta bantuan. Di kepala mereka, menolak permintaan keluarga atau gagal menjadi tempat bersandar adalah sebuah dosa besar. Mereka mengadopsi kecemasan orang tua mereka dan menjadikannya standar hidup sendiri. Akibatnya? Sebuah kejenuhan mental (burnout) kronis yang mereka bawa ke lingkungan kerja, pertemanan, hingga hubungan asmara.

Menguliti fenomena ini dalam sebuah jurnal bukan untuk memposisikan anak perempuan pertama sebagai korban yang hobi mengasihani diri sendiri. Ini adalah upaya dekonstruksi terhadap romantisasi kalimat “Wah, kamu hebat ya, mandiri banget dari kecil”. Padahal, di balik kemandirian yang dipuji-puji itu, ada anak kecil yang dipaksa mengubur ego dan masa mudanya demi menjaga agar dinamika rumah tetap stabil.

Pada akhirnya, menyadari realitas ini adalah langkah pertama untuk meletakkan beban yang bukan milik kita. Menjadi anak perempuan pertama bukan berarti harus menjadi juru selamat bagi seluruh anggota keluarga. Kadang, bentuk mencintai keluarga yang paling sehat adalah dengan berani berkata, “Gak semua hal di rumah ini adalah tanggung jawabku,” dan mulai belajar untuk menjadi manusia biasa yang boleh lelah, boleh gagal, dan boleh egois untuk diri sendiri.

Sejak kapan minta bantuan jadi tanda kelemahan?

Konselor Sebaya : Khansa Khairatun Hisan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Ada waktu-waktu dimana kita merasa harus bisa menangani segalanya sendirian. Ada suara kecil di kepala yang berkata, “udah, jangan menyusahkan orang, kamu pasti bisa mengurus ini sendiri”. Lalu kita mulai menutup diri, perlahan-lahan, sampai akhirnya kita lupa bagaimana
rasanya meminta bantuan tanpa merasa bersalah.

Tapi coba deh, pikir ulang. Sejak kapan minta bantuan jadi tanda kelemahan? Sejak kapan kita jadi merasa kalau butuh bantuan orang lain artinya kita tidak kuat? Padahal kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada orang di antara kita yang bisa melewati hidup ini sendirian. Selalu ada seseorang, bisa keluarga, teman, atau orang asing yang lewat kebetulan di saat yang tepat, yang membuat kita tetap bisa melangkah terus.

Support system itu nggak selalu berbentuk solusi. Kadang dia cuma berbentuk kehadiran. Orang yang mau duduk bersama kita di tengah kekacauan, tanpa langsung bilang “move on” atau “sabar saja.” Orang yang membiarkan kita bercerita berulang-ulang tentang hal yang sama, karena mereka tahu kita sedang butuh didengar, bukan diberi nasihat. Dan kehadiran yang sederhana seperti itu, sering kali, sudah cukup membuat beban terasa lebih ringan untuk dipikul.

Kita tumbuh dengan mitos bahwa “kekuatan” berarti tidak perlu bantuan siapa pun. Padahal kekuatan sebenarnya terletak pada keberanian untuk mengakui, “aku sedang tidak baik-baik saja, dan aku butuh seseorang di sampingku”. Itu bukanlah kelemahan. Itu keberanian yang tidak banyak orang miliki, karena mengakui rasa sakit justru lebih sulit daripada berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Jadi kalau hari ini kamu merasa sedih atau kesal, coba tanya pada diri sendiri: siapa saja orang yang bisa kamu hubungi sekarang? Siapa yang bakal dengerin tanpa menghakimi? Kalau jawabannya belum ada, nggak apa-apa. Terkadang kita hanya butuh waktu untuk menemukan orang yang benar-benar tepat. Tapi yang jelas, kamu nggak dibuat buat melewati semuanya sendirian. Dan kalau saat ini kamu belum nemu siapa itu, PPKPT bisa jadi salah satu tempat kamu mulai bercerita. kami di sini, siap dengerin dan bantu kamu.

Hari Valentine: Budaya Murni atau FOMO Berkedok Cokelat?

Konselor Sebaya : Luk Luk Nurul Ahyani
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Toko kelontong mendadak berubah jadi lautan merah muda dan merah darah. Rak-rak yang biasanya diisi sabun cuci piring kini disulap jadi etalase cokelat pita dengan diskon bundle yang agresif. Fenomena tahunan ini selalu memicu pertanyaan klise di kepala saya: Apakah Valentine ini benar-benar perayaan budaya kasih sayang, atau sebenarnya cuma strategi marketing korporasi cokelat raksasa yang berhasil mencuci otak kita semua?

Secara historis, bertukar kartu memang tradisi lama. Tapi kalau bicara soal kewajiban membelikan pasangan sekotak cokelat mahal? Itu jelas kemenangan mutlak tim marketing. Industri berhasil menciptakan narasi bahwa “kasih sayang” setara dengan kadar glukosa dalam bungkus foil perak. Bagi yang punya pasangan, ini jadi ritual validasi cinta yang manis dan konsumtif.

Tapi, terus kalau kamu ga punya pasangan gimana? Sedih? Galau karena merasa terasing dari festival merah muda ini? STOP! Mari kita rasionalisasi keadaan. Menangisi status single di hari Valentine itu ibarat sedih karena kamu gak merayakan hari jadi perusahaan yang bukan tempatmu bekerja. Gak ada korelasinya. Fakta bahwa kamu gak beli cokelat diskon hari ini bukan berarti kamu gak dicintai.

Kenapa Gak Perlu Galau?

  • Hemat Dompet: Kamu baru saja menyelamatkan saldo rekening dari inflasi harga bunga dan cokelat yang mendadak naik 200%.
  • Bebas Ekspektasi: Gak perlu pusing memikirkan kode-kodean atau takut hadiahmu dianggap “kurang niat”.
  • Self-Love yang Real: Kalau memang mau cokelat, beli saja sendiri besok tanggal 15 Februari. Biasanya diskonnya jauh lebih besar karena masa promo sudah lewat.

Hari Valentine hanyalah hari Selasa atau Rabu biasa yang diberi pita merah. Cinta itu terlalu luas untuk dipersempit dalam sebatang cokelat komersial. Jadi, tarik napas, tutup media sosialmu jika isinya terlalu bising, dan nikmati harimu. Kamu berharga, dengan atau tanpa pasangan.