Anak Perempuan pertama

Konselor Sebaya : AURA MERIA MAITASHA
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Pernah mendengar, kalau anak perempuan pertama di rumah itu sebenarnya adalah “asisten rumah tangga tanpa gaji” sekaligus “wakil kepala sekolah” bagi adik-adiknya? Premis itu ternyata tidak bercanda. Beberapa riset psikologi belakangan ini mengonfirmasi sesuatu yang selama ini hanya jadi gumaman di kamar mandi, anak perempuan tertua sering kali memegang rekor tingkat stres tertinggi di rumah. Bahkan, dalam urusan tekanan mental akut, skor mereka bisa melompat jauh melampaui beban emosional yang dipikul oleh ibunya sendiri. Ini bukan kompetisi siapa yang paling menderita, tapi ini tentang struktur peran yang timpang.

Mengapa bisa se-ekstrem itu? Jawabannya ada pada jebakan bernama parentification. Sejak kecil, anak perempuan pertama sudah disuntik doktrin tak tertulis untuk menjadi “contoh”. Namun, karena gender mereka perempuan, beban itu otomatis bertambah dengan urusan domestik dan manajemen emosi keluarga. Mereka dituntut menjadi dewasa sebelum waktunya. Ketika sang ibu lelah atau stres, anak perempuan pertamalah yang biasanya dijadikan tempat curhat atau back-up emosional. Ironisnya, mereka harus menanggung tanggung jawab selevel orang tua, tapi tanpa memiliki otoritas atau hak veto untuk mengatur hidup mereka sendiri. Mereka adalah pekerja keras di dalam sistem, tapi tanpa posisi tawar.

Dampak dari “latihan menjadi dewasa” yang terlalu dini ini menciptakan monster baru saat mereka beranjak dewasa: hyper-independence yang melelahkan. Anak perempuan pertama sering kali tumbuh menjadi manusia yang haram hukumnya terlihat lemah atau meminta bantuan. Di kepala mereka, menolak permintaan keluarga atau gagal menjadi tempat bersandar adalah sebuah dosa besar. Mereka mengadopsi kecemasan orang tua mereka dan menjadikannya standar hidup sendiri. Akibatnya? Sebuah kejenuhan mental (burnout) kronis yang mereka bawa ke lingkungan kerja, pertemanan, hingga hubungan asmara.

Menguliti fenomena ini dalam sebuah jurnal bukan untuk memposisikan anak perempuan pertama sebagai korban yang hobi mengasihani diri sendiri. Ini adalah upaya dekonstruksi terhadap romantisasi kalimat “Wah, kamu hebat ya, mandiri banget dari kecil”. Padahal, di balik kemandirian yang dipuji-puji itu, ada anak kecil yang dipaksa mengubur ego dan masa mudanya demi menjaga agar dinamika rumah tetap stabil.

Pada akhirnya, menyadari realitas ini adalah langkah pertama untuk meletakkan beban yang bukan milik kita. Menjadi anak perempuan pertama bukan berarti harus menjadi juru selamat bagi seluruh anggota keluarga. Kadang, bentuk mencintai keluarga yang paling sehat adalah dengan berani berkata, “Gak semua hal di rumah ini adalah tanggung jawabku,” dan mulai belajar untuk menjadi manusia biasa yang boleh lelah, boleh gagal, dan boleh egois untuk diri sendiri.

Tinggalkan Komentar