Refleksi Konselor

Mengenali Rasa, Memahami Diri

Konselor Sebaya : Fadhil Firliansyah
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Memasuki bulan Juni, pengalaman sebagai konselor sebaya kembali memberikan pembelajaran yang semakin memperluas wawasan saya mengenai diri sendiri maupun orang lain. Setelah pada bulan sebelumnya saya belajar mengenai self-esteem dan pengaruh media sosial terhadap kondisi psikologis seseorang, pada bulan ini saya mulai memahami pentingnya mengenali dan mengelola emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Di bulan Juni di minggu kedua kami masi menjalankan program Ngobrol yuk dan di bulan ini saya piket di hari jumat untuk program tersebut. Selama saya piket tidak ada konseli yang menelpon atau sekedar chat tetapi selama piket alhamdulillah ada temen di sana jadi tidak terlalu suntuk untuk mengisi kekosongan saya membantu teman dalam membuat konten ppkpt.

Saya menyadari bahwa setiap orang tentu pernah merasakan berbagai macam emosi seperti senang, sedih, marah, kecewa, cemas, atau takut. Namun, setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menghadapi emosi tersebut. Ada orang yang dapat menyampaikan apa yang dirasakan dengan terbuka, tetapi ada juga yang lebih memilih menyimpan semuanya sendiri. Dari pembelajaran yang saya dapatkan, saya mulai memahami bahwa semua emosi pada dasarnya merupakan hal yang wajar, tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengelola emosi tersebut dengan baik.

Selain itu, saya juga mempelajari pentingnya self-awareness atau kesadaran diri. Saya memahami bahwa mengenali diri sendiri merupakan langkah awal untuk memahami orang lain. Dengan memahami kondisi diri, seseorang dapat lebih menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, mengetahui hal-hal yang dapat memengaruhi suasana hati, serta lebih mampu mengontrol respons ketika menghadapi suatu situasi.

Melalui pembelajaran ini, saya mulai melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Saya mencoba memahami bagaimana cara saya menghadapi tekanan, bagaimana saya merespons suatu masalah, dan bagaimana saya mengelola perasaan ketika menghadapi situasi tertentu. Saya menyadari bahwa proses memahami diri sendiri merupakan proses yang tidak instan, tetapi membutuhkan waktu dan kemauan untuk terus belajar.

Pengalaman selama bulan Juni ini memberikan pelajaran yang berharga bagi saya. Saya berharap pengetahuan yang diperoleh dapat membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peka terhadap kondisi diri sendiri maupun orang lain, serta dapat menjadi bekal dalam menjalankan peran sebagai konselor sebaya di masa yang akan datang.

Obsesi

Konselor Sebaya : AURA MERIA MAITASHA
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Jika obsesi pada barang mati bisa membuat pikiran kita terkuras, maka obsesi terhadap sesama manusia atau yang sering disebut sebagai obsessive love memiliki daya rusak yang jauh lebih mendalam. Di awal, semuanya terasa sangat indah dan mendebarkan, kamu merasa jatuh cinta, kagum, atau sangat tertarik pada seseorang. Namun, perlahan-lahan, rasa kagum itu bergeser menjadi kebutuhan mendesak untuk mengontrol, memiliki, dan mengetahui setiap detail kehidupan mereka. Pikiranmu seolah tersita penuh, memicu dorongan untuk terus memeriksa media sosial mereka, merasa cemas luar biasa jika pesan tidak dibalas, hingga merasa dunia runtuh saat mereka tidak memberikan perhatian yang kamu harapkan.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini sering kali bukan tentang cinta yang tulus, melainkan manifestasi dari ketakutan mendalam akan penolakan dan kehilangan (attachment anxiety). Cinta yang sehat berfokus pada pertumbuhan bersama dan kebebasan masing-masing individu, sedangkan obsesi berakar pada rasa tidak aman (insecurity) yang akut. Ketika kita terobsesi pada seseorang, kita cenderung membuat “versi ideal” dari mereka di dalam kepala kita. Kita tidak benar-benar mencintai sosok asli mereka, melainkan mencintai ilusi dan validasi yang kita harapkan bisa kita dapatkan dari mereka untuk mengisi kekosongan emosional di dalam diri sendiri.

Dampak dari hubungan yang didasari obsesi ini kerap kali berujung toxic, baik bagi diri sendiri maupun orang yang menjadi objek obsesi. Bagi dirimu, obsesi ini akan mengikis harga diri (self-esteem) karena kebahagiaanmu sepenuhnya digantungkan pada respons orang lain. Kamu menjadi rentan mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, stres, dan kehilangan fokus pada masa depanmu sendiri. Sementara bagi orang tersebut, perhatian yang berlebihan dan posesif akan terasa mencekik, mengganggu ruang privasi mereka, dan pada akhirnya justru membuat mereka memilih untuk menjauh.

Menyadari dan mengakui bahwa kita sedang terobsesi adalah langkah yang sangat berat, namun krusial untuk diambil. Batasan utamanya ada pada rasa hormat terhadap ruang personal. Jika keinginan untuk terhubung sudah berubah menjadi dorongan untuk mengawasi dan menuntut perhatian tanpa henti, itu adalah alarm keras bahwa batasan sehat telah dilanggar. Menghargai orang lain berarti juga harus siap menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengontrol perasaan, keputusan, atau hidup mereka.

Menyembuhkan diri dari obsesi interpersonal ini membutuhkan keberanian untuk mengalihkan sorot lampu senter kembali ke diri sendiri. Alih-alih menghabiskan energi untuk mencari tahu tentang hidup orang lain, energi tersebut perlu dialokasikan untuk merawat diri, mengejar tujuan pribadi, dan memahami akar dari rasa sepi yang kita rasakan. Pada akhirnya, kedamaian sejati muncul ketika kita menyadari bahwa kita adalah tokoh utama dalam hidup kita sendiri, dan nilai diri kita tidak pernah ditentukan oleh seberapa besar orang lain membalas perhatian kita.

Belajar Memahami, Berhenti Mengeluh, dan Menemukan Arti Syukur yang Sesungguhnya

Konselor Sebaya : Luk Luk Nurul Ahyani
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Hari ini, saya bersama teman-teman tim organisasi melakukan kunjungan sosial ke sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB). Jujur, awalnya saya mengira hari ini akan dipenuhi oleh atmosfer yang mengharukan atau bahkan menyedihkan. Namun, begitu melangkah masuk dan berinteraksi langsung dengan anak-anak di sana, semua prasangka itu runtuh. Saya justru disuguhi pemandangan yang luar biasa indah: sebuah ekosistem kehidupan yang begitu seru, hangat, dan penuh dengan ruang saling memahami.

Di sana, keterbatasan fisik atau mental tidak menjadi sekat untuk berbahagia. Mereka berkomunikasi dengan cara mereka sendiri, saling membantu tanpa diminta, dan merayakan hal-hal kecil dengan tawa yang lepas. Menyaksikan mereka bermain dan belajar bersama memberikan kehangatan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Mereka tampak sangat bahagia, tulus, seolah-olah hidup mereka bersih dari segala beban dan masalah.

Momen itu seketika menjadi tamparan halus, namun sangat telak, tepat di dada saya. Saya langsung berkaca pada diri sendiri: Ternyata selama ini saya kebanyakan mengeluh daripada bersyukur.

Re-evaluasi Diri: Bahagia Itu Sederhana

Melihat senyum lepas anak-anak SLB hari ini membuat saya tersadar akan beberapa hal penting yang sering saya lupakan dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari:

  • Kufur Nikmat vs. Bahagia yang Tulus: Saya sering kali stres dan mengeluh hanya karena hal-hal sepele, entah karena tugas yang menumpuk, cuaca yang panas, atau ekspektasi yang tidak terpenuhi. Sementara mereka, dengan tantangan hidup yang jauh lebih nyata, memilih untuk memeluk hari dengan senyuman terbaiknya.
  • Saling Memahami adalah Kunci: Di SLB, saya belajar bahwa ketika kita menurunkan ego dan mau saling memahami keterbatasan satu sama lain, dunia akan terasa jauh lebih damai dan minim konflik.
  • Menikmati Hari Ini: Anak-anak itu mengajarkan saya bahwa bahagia tidak butuh syarat yang rumit. Cukup hadir sepenuhnya di momen sekarang dan mensyukuri apa yang ada di tangan.

Saya pulang dari SLB hari ini bukan membawa rasa kasihan, melainkan rasa hormat dan tumpukan rasa syukur yang baru. Terima kasih kepada tim organisasi yang sudah menginisiasi kegiatan ini dan terima kasih kepada adik-adik di SLB yang telah menjadi guru kehidupan terbaik saya hari ini. Mulai besok, saat keluhan ingin keluar dari mulut ini, saya akan mengingat senyum tulus mereka.

Luka Bukanlah Akhir dari Hidupmu

Konselor Sebaya : Khansa Khairatun Hisan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Ada masa di mana hidup terasa nggak adil. Ketika keluarga yang seharusnya jadi tempat pulang, malah jadi sumber luka. Ketika orang orang yang seharusnya menjaga, justru yang bikin kita kehilangan arah. Di titik itu, wajar kalau kita sempat bertanya, “kalau begini caranya, buat apa aku punya tujuan hidup?”.

Ada kalanya kita juga merasa capek untuk terus berharap. Capek melihat orang lain punya keluarga yang utuh sementara kita harus belajar menerima kenyataan yang jauh dari itu. Capek menjelaskan ke diri sendiri kenapa semuanya harus terjadi seperti ini. Dan di tengah rasa capek itu, seringkali kita lupa bahwa perasaan kita valid, bahwa boleh saja merasa marah, sedih, atau bingung tanpa harus buru buru mencari hikmahnya.

Tapi satu hal yang penting untuk diingat adalah penderitaan bukan berarti hidup kita kehilangan makna. Justru terkadang, di tengah keadaan yang paling nggak nyaman itulah kita belajar hal-hal yang nggak bisa kita dapat dari keadaan yang baik baik saja. Tentang kekuatan yang kita nggak tahu kita punya. Tentang cara bertahan yang ternyata bisa kita lakukan. Tentang siapa diri kita sesungguhnya ketika semua terasa runtuh dan kita masih memilih untuk bangun lagi keesokan harinya.

Kita nggak selalu bisa memilih apa yang terjadi pada kita. Tapi kita selalu punya ruang untuk memilih sikap. Cara kita menghadapi, cara kita memaknai, cara kita memutuskan untuk tetap melangkah meski dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Bukan berarti kita harus berpura pura baik baik saja, tapi kita belajar untuk berdamai sedikit demi sedikit dengan apa yang sudah terjadi, sambil tetap membuka ruang untuk sembuh dengan cara dan waktu kita sendiri.

Dan dari situlah, pelan pelan, tujuan hidup yang baru bisa mulai terbentuk. Bukan tujuan yang menghapus luka, tapi tujuan yang tumbuh berdampingan dengannya. Tujuan yang lahir bukan karena kita berhasil melupakan apa yang terjadi, tapi karena kita berhasil menerima bahwa itu bagian dari perjalanan kita, dan kita tetap layak untuk punya masa depan yang kita perjuangkan sendiri.

Jadi kalau kamu sedang berada di titik itu, di mana rasanya sulit menemukan alasan untuk terus maju, ingatlah bahwa kamu nggak sendirian. Penderitaanmu hari ini bukan akhir dari cerita hidupmu, tapi mungkin justru awal dari makna yang belum kamu temukan.

Manifestasi Estetik: Dari Layar Kaca ke Dunia Nyata

Konselor Sebaya : LUK LUK NURUL AHYANI
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Hidup kadang punya cara yang sangat lucu dan tak tertebak untuk mewujudkan keinginan kita. Semua ini berawal dari hal sepele: saya iseng ikutan tren yang lagi ramai di media sosial, yaitu menyalakan video aquarium estetis di layar Smart TV sebagai background kamar biar suasananya terasa tenang dan healing. Menatap ikan-ikan digital itu berenang di layar TV sudah cukup membuat saya senang. Eh, siapa yang menyangka kalau visualisasi itu justru jadi “undangan” dari semesta?

Tiba-tiba saja, tanpa diduga-duga, saya mendapat undangan untuk pergi ke Bandung. Dan ceritanya tidak berhenti di situ. Di tengah perjalanan, saya berkesempatan mampir ke BxSea sebuah akuarium raksasa yang nyata! Menatap ikan-ikan hiu, pari, dan biota laut asli berenang tepat di depan mata saya, rasanya magis sekali. Saya langsung teringat layar Smart TV di kamar. Plot twist hidup macam apa ini? Dari yang tadinya cuma memandang layar kaca, sekarang malah berdiri di dalam akuarium beneran.

Bulan ini rasanya benar-benar seperti bulan keberuntungan bagi saya. Rasanya semua pintu kemudahan terbuka begitu saja, dan semesta seolah-olah sedang bersekongkol untuk membuat saya tersenyum.

Ketika Keberuntungan Berpihak pada Kita

Pernah gak sih, kalian berada di situasi di mana kalian merasa keberuntungan lagi berpihak banget ke kalian? Momen di mana semua hal terjadi di waktu yang tepat (perfect timing), seolah semua doa dan keinginan random kalian di-acc begitu saja oleh Tuhan tanpa antre. Mengalami momen seperti ini membuat saya sadar akan beberapa hal:

  • Kekuatan Pikiran (Manifestasi): Kadang apa yang kita lihat dan kita inginkan dengan perasaan bahagia, meski lewat hal kecil seperti tren Smart TV, ternyata bisa menarik energi positif yang sama ke hidup kita.
  • Belajar Bersyukur di Momen Terbaik: Keberuntungan itu seperti ombak, ia datang dan pergi. Tugas kita adalah menikmatinya sampai puas saat ombak itu sedang membawa kita ke atas.

Perjalanan ke Bandung dan BxSea ini bukan cuma sekadar liburan buat saya, tapi jadi pengingat indah kalau hidup ini penuh kejutan manis. Kalau hari ini keberuntungan lagi memeluk saya dengan erat, saya harap besok-besok giliran kalian yang merasakan keajaiban random seperti ini!

Pernah gak kalian punya cerita serupa, di mana sebuah keisengan tiba-tiba berubah jadi keberuntungan yang nyata?

Depression

Konselor Sebaya : AURA MERIA MAITASHA
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

“lebay banget pakai depresi depresi segala, kurang bersyukur dan bla bla bla”
”heran banget sampai bunuh diri?”

Guyss gimana cara kita empati sama orang kalau kita tidak percaya dengan apa yang kita lihat dan dengar? Apa mau tunggu sampai kita ngerasain depresinya? Atau merasakan sendiri tidak bisa bedain mana bahagia mana sedih, karena ngerasa kalau dunia ni semua hampa?

Hanya karna seseorang itu rajin ibadah, bukan berarti dia terbebas dari depresi karena sumbernya itu dari trauma yang udah ga ketolong lagi. Kita harus tau gimana rasanya dapat masalah besar sampai bingung untuk menghadapi hari esok gimana dan orang-orang seperti itu sangat dekat dengan sekitar kita. Karena kelakuannya kayak orang normal pada umumnya.

Malah mereka terlihat ceria setiap saat, ketawa berlebihan seperti tidak ada masalah. Cobalah lebih berempati karena menurut data, gender laki-laki lebih banyak korban bundir padahal keliatannya baik baik saja.

Merasa paling kuat, namun sering mengeluh kelelahan bukan bukan berarti sekedar lelah fisik biasa, tapi kelelahan emosi yang berlarut hingga tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat. Bahkan sampai menarik diri dari pergaulan yang tadinya easy going jadi mendadak suka menyendiri, menghindari keramaian dan bahkan enggan untuk keluar rumah dengan alasan malas atau lelah.

Perubahan nya memang tidak terlihat, namun bisa menjadi sensitif dan emosional. Reaksi emosional yang sangat instens dan berlebihan ketika menghadapi persoalan sepele, sulit fokus dan hilang motivasi yang mengakibatkan daya fokus menurun drastis, bahkan bisa kehilangan semangat atau ketertarikan pada hal baru.

Depresi itu sama sekali tidak mandang latar belakang, keluarga, usia, status ekonomi, sosial, maupun gender. Semua orang bisa berpotensi untuk kena depresi. Beberapa orang bahkan ingin sembuh dengan obat, namun apa yang terjadi? Mereka akan ketergantungan obat, dan lagi? Untuk lepas dari obatpun tidak boleh sembarangan, mereka ber ulang-ulang kali mencoba lepas dan pakai lagi. Mencoba menjadi yang terbaik..

Ketika sudah stop obat karna ngerasa sudah sembuh, hasilnya? Akan ada fase relapse dan obat depresi itu tidak murah, mereka terus jatuh bangun untuk bertahan hidup. Lagi lagi mereka akan berkata pada diri sendiri ”gapapa meski pelan, meskipun belun jadi apa apa yang penting kan tetap jalan” Masih mau menganggap kalau depresi itu sebelah mata?

Bukan Pesimis, Hanya Pernah Terluka

Konselor Sebaya : Khansa Khairatun Hisan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Ada orang-orang yang tumbuh dengan pikiran negatif bukan karena mereka terlahir pesimis, melainkan karena hidup pernah terlalu keras kepada nya, hingga ia kesulitan untuk percaya bahwa semuanya bisa baik-baik saja. Rasa curiga, rasa takut dikecewakan, hingga bisikan cemas bahwa “semuanya akan berakhir sama saja”, itu semua sebenarnya bukan sifat asli seseorang. Semua itu adalah mekanisme pertahanan diri, cara mereka melindungi diri dari luka masa lalu yang belum sempat sembuh.

Kadang-kadang, hal yang paling dibutuhkan bukanlah seseorang yang terburu-buru memberikan solusi, atau dengan mudahnya berkata untuk jangan berpikir negatif terus. Yang paling dibutuhkan adalah kehadiran seseorang yang mau duduk bersama, mendengarkan ceritanya sampai selesai, dan tidak menghakimi setiap pikiran yang terlontar, meskipun pikiran itu dipenuhi oleh amarah, kecurigaan, atau luka yang menganga. Sebab, pemulihan tidak akan pernah datang dari paksaan untuk selalu berpikir positif, melainkan dari rasa lega karena akhirnya diperbolehkan jujur tentang apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Setiap orang pada dasarnya berhak mendapatkan ruang aman seperti itu. Sebuah ruang yang menaruh kepercayaan bahwa dirinya lebih tahu apa yang ia butuhkan, ruang yang tidak tergesa- gesa memberikan penilaian, serta ruang yang membuat ia tersadar bahwa pikiran negatif itu bukanlah identitas dirinya. Pikiran itu hanyalah jejak dari apa yang pernah ia lewati di masa lalu. Dan jejak tersebut, sepelan apa pun jalannya, tetap bisa diproses dan disembuhkan, asalkan ada seseorang yang tulus mau menemani prosesnya.

Dari Edukasi Menuju Aksi Nyata

Konselor Sebaya : LUK LUK NURUL AHYANI
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Hari ini saya mendapatkan ruang diskusi dan pembahasan yang sangat seru, mendalam, sekaligus membuka mata mengenai isu pelecehan seksual. Menarik bagaimana sebuah topik yang sering kali dianggap tabu, berat, dan dihindari masyarakat, justru bisa dibedah dengan begitu bernas. Diskusi ini tidak hanya memberikan saya informasi baru, tetapi juga menyalakan sebuah pemantik di dalam diri saya.

Semakin saya belajar dan memahami seluk-beluk isu ini, mulai dari bentuk-bentuknya yang kasatmata hingga dampaknya yang mendalam bagi psikologis korban, saya justru tidak merasa takut atau pesimis. Sebaliknya, pemahaman ini memicu keyakinan yang kuat di dalam dada: saya harus terus belajar. Ilmu ini terlalu penting untuk berhenti di kepala saya sendiri.

Insight terbesar hari ini adalah sebuah afirmasi positif untuk diri saya sendiri, yaitu “pengetahuan yang saya dapatkan hari ini adalah modal utama untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, terutama untuk diri saya sendiri dan lingkungan terdekat.”

Komitmen Kecil untuk Dampak yang Besar

Melalui jurnal ini, saya ingin menanamkan pola pikir positif bahwa pemahaman yang saya miliki bisa menjadi benteng sekaligus jembatan penolong:

  • Menjadi Tempat Aman (Safe Space): Dengan terus belajar, saya melatih diri untuk menjadi pendengar yang empati, tidak menghakimi, dan tahu bagaimana bersikap jika orang terdekat membutuhkan pertolongan.
  • Memulai dari lingkungan terdekat: Edukasi tidak harus selalu di panggung besar. Mengoreksi lelucon seksis di tongkrongan atau mengedukasi keluarga terdekat adalah langkah nyata yang bisa saya lakukan sekarang.
  • Melindungi Diri Sendiri: Paham akan batasan (boundaries) membuat saya lebih kuat dan tahu bagaimana menjaga otoritas atas tubuh dan ruang aman saya sendiri.

Belajar tentang pelecehan seksual bukan berarti berfokus pada kegelapan isunya, melainkan tentang bagaimana kita membawa lentera untuk meneranginya. Saya yakin, dengan terus memperkaya diri lewat ilmu, saya akan menjadi versi diri yang lebih bermanfaat, suportif, dan mampu membawa perubahan positif bagi lingkungan di sekitar saya.

PERJALANAN BELAJAR INI BARU DIMULAI!!

Ketika Pikiran, Juga Membutuhkan Istirahat Ketika Pikiran,

Konselor Sebaya : Fadhil Firliansyah
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Memasuki bulan April, pengalaman sebagai konselor sebaya kembali memberikan pembelajaran dan wawasan baru bagi saya. Pada bulan ini saya lebih banyak mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan konseling dan fenomena psikologis yang sering terjadi di lingkungan mahasiswa. Dari proses tersebut saya mulai menyadari bahwa kesehatan mental merupakan hal yang penting dan perlu mendapatkan perhatian yang sama seperti kesehatan fisik.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah fenomena burnout akademik yang cukup sering dialami mahasiswa. Tuntutan tugas kuliah, kegiatan organisasi, tanggung jawab pribadi, serta berbagai ekspektasi yang dimiliki terkadang membuat seseorang merasa lelah secara fisik maupun emosional. Sebelumnya saya menganggap kelelahan hanya terjadi karena terlalu banyak aktivitas, tetapi setelah mempelajarinya lebih jauh saya mulai memahami bahwa kelelahan mental juga dapat memengaruhi semangat, konsentrasi, bahkan motivasi seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain burnout, saya juga mempelajari fenomena overthinking yang sering dialami oleh mahasiswa. Banyak orang terkadang terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, seperti rasa takut gagal, khawatir terhadap masa depan, atau merasa cemas terhadap penilaian orang lain. Saya menyadari bahwa fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa karena sering kali seseorang menuntut dirinya untuk selalu mencapai hasil yang sempurna. Dari pembelajaran tersebut saya memahami bahwa penting untuk belajar mengelola pikiran dan emosi agar tidak memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri.

Pengalaman pada bulan April ini membuat saya melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Saya menyadari bahwa terkadang saya juga pernah mengalami rasa lelah, cemas, atau terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan. Dari situ saya belajar bahwa setiap orang memiliki tantangan masing-masing dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan atau berbagi cerita kepada orang lain ketika merasa kesulitan. Saya berharap pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan selama bulan ini dapat menjadi bekal bagi saya untuk terus berkembang menjadi konselor sebaya yang lebih baik serta menjadi pribadi yang lebih peka terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Tidak Apa-Apa untuk Tidak Langsung Baik-Baik Aja

Konselor Sebaya : Khansa Khairatun Hisan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Ada kalanya kita ingin semua hal beres secepatnya. Rasa hampa, rasa capek, serta tumpukan beban di dalam dada, semuanya ingin buru-buru kita hilangkan agar kita bisa kembali merasa “baik-baik saja”. Padahal, tidak semua perasaan harus dipaksa pergi dengan segera. Kadang-kadang, hal yang paling kita butuhkan justru adalah ruang untuk benar-benar merasakannya terlebih dahulu, tanpa harus terburu-buru mencari jalan keluar.

Kita bisa belajar dari pesan yang disampaikan oleh Tulus dalam salah satu lagunya. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang kosong itu harus segera diisi, dan tidak semua yang berat harus selesai hari ini juga. Ada proses di dunia ini yang memang membutuhkan waktu untuk berproses. Mengambil jeda bukan berarti kita lemah, melainkan sebuah tanda bahwa kita sedang jujur dan lembut pada diri sendiri.

Jadi, kalau hari ini langkahmu terasa begitu berat, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Tidak apa-apa jika kamu belum langsung memiliki jawaban atas semua tanya. Masalah yang paling rumit sekalipun biasanya tidak akan selesai dengan cara tergesa-gesa. Semua itu akan terurai melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, beriringan dengan hati yang mau diberikan waktu untuk pulih secara perlahan.