Konselor Sebaya : Luk Luk Nurul Ahyani
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Toko kelontong mendadak berubah jadi lautan merah muda dan merah darah. Rak-rak yang biasanya diisi sabun cuci piring kini disulap jadi etalase cokelat pita dengan diskon bundle yang agresif. Fenomena tahunan ini selalu memicu pertanyaan klise di kepala saya: Apakah Valentine ini benar-benar perayaan budaya kasih sayang, atau sebenarnya cuma strategi marketing korporasi cokelat raksasa yang berhasil mencuci otak kita semua?
Secara historis, bertukar kartu memang tradisi lama. Tapi kalau bicara soal kewajiban membelikan pasangan sekotak cokelat mahal? Itu jelas kemenangan mutlak tim marketing. Industri berhasil menciptakan narasi bahwa “kasih sayang” setara dengan kadar glukosa dalam bungkus foil perak. Bagi yang punya pasangan, ini jadi ritual validasi cinta yang manis dan konsumtif.
Tapi, terus kalau kamu ga punya pasangan gimana? Sedih? Galau karena merasa terasing dari festival merah muda ini? STOP! Mari kita rasionalisasi keadaan. Menangisi status single di hari Valentine itu ibarat sedih karena kamu gak merayakan hari jadi perusahaan yang bukan tempatmu bekerja. Gak ada korelasinya. Fakta bahwa kamu gak beli cokelat diskon hari ini bukan berarti kamu gak dicintai.
Kenapa Gak Perlu Galau?
- Hemat Dompet: Kamu baru saja menyelamatkan saldo rekening dari inflasi harga bunga dan cokelat yang mendadak naik 200%.
- Bebas Ekspektasi: Gak perlu pusing memikirkan kode-kodean atau takut hadiahmu dianggap “kurang niat”.
- Self-Love yang Real: Kalau memang mau cokelat, beli saja sendiri besok tanggal 15 Februari. Biasanya diskonnya jauh lebih besar karena masa promo sudah lewat.
Hari Valentine hanyalah hari Selasa atau Rabu biasa yang diberi pita merah. Cinta itu terlalu luas untuk dipersempit dalam sebatang cokelat komersial. Jadi, tarik napas, tutup media sosialmu jika isinya terlalu bising, dan nikmati harimu. Kamu berharga, dengan atau tanpa pasangan.

