Banda Aceh – Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (SATGAS PPKPT) Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan Workshop Peningkatan Pemahaman dan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi pada Kamis, 9 April 2026, bertempat di Aula Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Universitas Syiah Kuala dalam mewujudkan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan berintegritas. Melalui kegiatan ini, sivitas akademika didorong untuk meningkatkan pemahaman serta berperan aktif dalam mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
Workshop ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor III Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., yang hadir pada pembukaan kegiatan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan kampus.
Rangkaian kegiatan diisi dengan pemaparan materi oleh narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, S.H., M.H., selaku Kepala Subaudit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan serta Isu Strategis Universitas Syiah Kuala; Gannis Eka Pramita Sari, selaku Auditor Ahli Pertama Inspektorat Jenderal Kemdiktisaintek; serta Aditya Rivaldy, S.H., LL.M., selaku Ketua SATGAS PPKPT Universitas Syiah Kuala.

Dalam pemaparan materi, para narasumber menekankan pentingnya penanganan kasus kekerasan yang dilakukan secara sistematis, berlandaskan prosedur yang jelas, serta menjunjung tinggi prinsip keadilan dan perlindungan korban. Pemahaman mengenai mekanisme penerimaan laporan, tahapan penanganan, dan pembagian peran masing-masing pihak menjadi bagian penting dalam membangun sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang efektif dan berkelanjutan.
Kehadiran Wakil Rektor III juga menegaskan pentingnya dukungan pimpinan universitas dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika. Sementara itu, Ketua SATGAS PPKPT USK menekankan bahwa upaya pencegahan dan penanganan kekerasan membutuhkan kolaborasi, kepedulian, serta keberanian seluruh elemen kampus untuk saling menjaga dan melindungi.

Sebagai bagian dari pengembangan layanan yang lebih dekat dengan mahasiswa, kegiatan ini turut menjadi momentum peluncuran Program “Ngobrol Yuk”. Program ini dihadirkan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk berbagi cerita, menyampaikan permasalahan, dan memperoleh dukungan secara suportif dengan tetap memperhatikan prinsip kerahasiaan. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan semakin terdorong untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan tanpa merasa takut atau khawatir akan penilaian dari orang lain.
Selain peluncuran program tersebut, turut diperkenalkan maskot resmi Konselor Sebaya, “Si Meulu”, yang terinspirasi dari bunga meulu atau melati Aceh. Si Meulu merepresentasikan kesucian, empati, dan ketulusan yang menjadi nilai penting dalam memberikan dukungan serta pendampingan kepada mahasiswa. Kehadiran maskot ini diharapkan dapat membangun kesan yang ramah dan dekat dengan mahasiswa, sekaligus mendorong mereka agar lebih berani bercerita dan mencari bantuan ketika membutuhkan dukungan.

Melalui kegiatan ini, SATGAS PPKPT USK berharap peningkatan pemahaman mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan dapat diikuti dengan tindakan nyata dalam kehidupan kampus sehari-hari. Penguatan sistem, pengembangan layanan, dan keterlibatan aktif seluruh sivitas akademika diharapkan mampu menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.
Informasi lebih lanjut mengenai program dan layanan SATGAS PPKPT Universitas Syiah Kuala dapat diakses melalui akun Instagram resmi @ppkpt.usk.
Pada akhirnya, kampus yang aman tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan sistem yang kuat, tetapi juga melalui kepedulian, keberanian untuk mencari dan memberikan bantuan, serta komitmen bersama untuk saling menghormati dan melindungi.
