Luka Bukanlah Akhir dari Hidupmu

Konselor Sebaya : Khansa Khairatun Hisan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Ada masa di mana hidup terasa nggak adil. Ketika keluarga yang seharusnya jadi tempat pulang, malah jadi sumber luka. Ketika orang orang yang seharusnya menjaga, justru yang bikin kita kehilangan arah. Di titik itu, wajar kalau kita sempat bertanya, “kalau begini caranya, buat apa aku punya tujuan hidup?”.

Ada kalanya kita juga merasa capek untuk terus berharap. Capek melihat orang lain punya keluarga yang utuh sementara kita harus belajar menerima kenyataan yang jauh dari itu. Capek menjelaskan ke diri sendiri kenapa semuanya harus terjadi seperti ini. Dan di tengah rasa capek itu, seringkali kita lupa bahwa perasaan kita valid, bahwa boleh saja merasa marah, sedih, atau bingung tanpa harus buru buru mencari hikmahnya.

Tapi satu hal yang penting untuk diingat adalah penderitaan bukan berarti hidup kita kehilangan makna. Justru terkadang, di tengah keadaan yang paling nggak nyaman itulah kita belajar hal-hal yang nggak bisa kita dapat dari keadaan yang baik baik saja. Tentang kekuatan yang kita nggak tahu kita punya. Tentang cara bertahan yang ternyata bisa kita lakukan. Tentang siapa diri kita sesungguhnya ketika semua terasa runtuh dan kita masih memilih untuk bangun lagi keesokan harinya.

Kita nggak selalu bisa memilih apa yang terjadi pada kita. Tapi kita selalu punya ruang untuk memilih sikap. Cara kita menghadapi, cara kita memaknai, cara kita memutuskan untuk tetap melangkah meski dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Bukan berarti kita harus berpura pura baik baik saja, tapi kita belajar untuk berdamai sedikit demi sedikit dengan apa yang sudah terjadi, sambil tetap membuka ruang untuk sembuh dengan cara dan waktu kita sendiri.

Dan dari situlah, pelan pelan, tujuan hidup yang baru bisa mulai terbentuk. Bukan tujuan yang menghapus luka, tapi tujuan yang tumbuh berdampingan dengannya. Tujuan yang lahir bukan karena kita berhasil melupakan apa yang terjadi, tapi karena kita berhasil menerima bahwa itu bagian dari perjalanan kita, dan kita tetap layak untuk punya masa depan yang kita perjuangkan sendiri.

Jadi kalau kamu sedang berada di titik itu, di mana rasanya sulit menemukan alasan untuk terus maju, ingatlah bahwa kamu nggak sendirian. Penderitaanmu hari ini bukan akhir dari cerita hidupmu, tapi mungkin justru awal dari makna yang belum kamu temukan.

Tinggalkan Komentar