Obsesi

Konselor Sebaya : AURA MERIA MAITASHA
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Jika obsesi pada barang mati bisa membuat pikiran kita terkuras, maka obsesi terhadap sesama manusia atau yang sering disebut sebagai obsessive love memiliki daya rusak yang jauh lebih mendalam. Di awal, semuanya terasa sangat indah dan mendebarkan, kamu merasa jatuh cinta, kagum, atau sangat tertarik pada seseorang. Namun, perlahan-lahan, rasa kagum itu bergeser menjadi kebutuhan mendesak untuk mengontrol, memiliki, dan mengetahui setiap detail kehidupan mereka. Pikiranmu seolah tersita penuh, memicu dorongan untuk terus memeriksa media sosial mereka, merasa cemas luar biasa jika pesan tidak dibalas, hingga merasa dunia runtuh saat mereka tidak memberikan perhatian yang kamu harapkan.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini sering kali bukan tentang cinta yang tulus, melainkan manifestasi dari ketakutan mendalam akan penolakan dan kehilangan (attachment anxiety). Cinta yang sehat berfokus pada pertumbuhan bersama dan kebebasan masing-masing individu, sedangkan obsesi berakar pada rasa tidak aman (insecurity) yang akut. Ketika kita terobsesi pada seseorang, kita cenderung membuat “versi ideal” dari mereka di dalam kepala kita. Kita tidak benar-benar mencintai sosok asli mereka, melainkan mencintai ilusi dan validasi yang kita harapkan bisa kita dapatkan dari mereka untuk mengisi kekosongan emosional di dalam diri sendiri.

Dampak dari hubungan yang didasari obsesi ini kerap kali berujung toxic, baik bagi diri sendiri maupun orang yang menjadi objek obsesi. Bagi dirimu, obsesi ini akan mengikis harga diri (self-esteem) karena kebahagiaanmu sepenuhnya digantungkan pada respons orang lain. Kamu menjadi rentan mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, stres, dan kehilangan fokus pada masa depanmu sendiri. Sementara bagi orang tersebut, perhatian yang berlebihan dan posesif akan terasa mencekik, mengganggu ruang privasi mereka, dan pada akhirnya justru membuat mereka memilih untuk menjauh.

Menyadari dan mengakui bahwa kita sedang terobsesi adalah langkah yang sangat berat, namun krusial untuk diambil. Batasan utamanya ada pada rasa hormat terhadap ruang personal. Jika keinginan untuk terhubung sudah berubah menjadi dorongan untuk mengawasi dan menuntut perhatian tanpa henti, itu adalah alarm keras bahwa batasan sehat telah dilanggar. Menghargai orang lain berarti juga harus siap menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengontrol perasaan, keputusan, atau hidup mereka.

Menyembuhkan diri dari obsesi interpersonal ini membutuhkan keberanian untuk mengalihkan sorot lampu senter kembali ke diri sendiri. Alih-alih menghabiskan energi untuk mencari tahu tentang hidup orang lain, energi tersebut perlu dialokasikan untuk merawat diri, mengejar tujuan pribadi, dan memahami akar dari rasa sepi yang kita rasakan. Pada akhirnya, kedamaian sejati muncul ketika kita menyadari bahwa kita adalah tokoh utama dalam hidup kita sendiri, dan nilai diri kita tidak pernah ditentukan oleh seberapa besar orang lain membalas perhatian kita.

Tinggalkan Komentar