Konselor Sebaya : AURA MERIA MAITASHA
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala
“lebay banget pakai depresi depresi segala, kurang bersyukur dan bla bla bla”
”heran banget sampai bunuh diri?”
Guyss gimana cara kita empati sama orang kalau kita tidak percaya dengan apa yang kita lihat dan dengar? Apa mau tunggu sampai kita ngerasain depresinya? Atau merasakan sendiri tidak bisa bedain mana bahagia mana sedih, karena ngerasa kalau dunia ni semua hampa?
Hanya karna seseorang itu rajin ibadah, bukan berarti dia terbebas dari depresi karena sumbernya itu dari trauma yang udah ga ketolong lagi. Kita harus tau gimana rasanya dapat masalah besar sampai bingung untuk menghadapi hari esok gimana dan orang-orang seperti itu sangat dekat dengan sekitar kita. Karena kelakuannya kayak orang normal pada umumnya.
Malah mereka terlihat ceria setiap saat, ketawa berlebihan seperti tidak ada masalah. Cobalah lebih berempati karena menurut data, gender laki-laki lebih banyak korban bundir padahal keliatannya baik baik saja.
Merasa paling kuat, namun sering mengeluh kelelahan bukan bukan berarti sekedar lelah fisik biasa, tapi kelelahan emosi yang berlarut hingga tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat. Bahkan sampai menarik diri dari pergaulan yang tadinya easy going jadi mendadak suka menyendiri, menghindari keramaian dan bahkan enggan untuk keluar rumah dengan alasan malas atau lelah.

Perubahan nya memang tidak terlihat, namun bisa menjadi sensitif dan emosional. Reaksi emosional yang sangat instens dan berlebihan ketika menghadapi persoalan sepele, sulit fokus dan hilang motivasi yang mengakibatkan daya fokus menurun drastis, bahkan bisa kehilangan semangat atau ketertarikan pada hal baru.
Depresi itu sama sekali tidak mandang latar belakang, keluarga, usia, status ekonomi, sosial, maupun gender. Semua orang bisa berpotensi untuk kena depresi. Beberapa orang bahkan ingin sembuh dengan obat, namun apa yang terjadi? Mereka akan ketergantungan obat, dan lagi? Untuk lepas dari obatpun tidak boleh sembarangan, mereka ber ulang-ulang kali mencoba lepas dan pakai lagi. Mencoba menjadi yang terbaik..
Ketika sudah stop obat karna ngerasa sudah sembuh, hasilnya? Akan ada fase relapse dan obat depresi itu tidak murah, mereka terus jatuh bangun untuk bertahan hidup. Lagi lagi mereka akan berkata pada diri sendiri ”gapapa meski pelan, meskipun belun jadi apa apa yang penting kan tetap jalan” Masih mau menganggap kalau depresi itu sebelah mata?

