Mengenali Rasa, Memahami Diri

Konselor Sebaya : Fadhil Firliansyah
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Memasuki bulan Juni, pengalaman sebagai konselor sebaya kembali memberikan pembelajaran yang semakin memperluas wawasan saya mengenai diri sendiri maupun orang lain. Setelah pada bulan sebelumnya saya belajar mengenai self-esteem dan pengaruh media sosial terhadap kondisi psikologis seseorang, pada bulan ini saya mulai memahami pentingnya mengenali dan mengelola emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Di bulan Juni di minggu kedua kami masi menjalankan program Ngobrol yuk dan di bulan ini saya piket di hari jumat untuk program tersebut. Selama saya piket tidak ada konseli yang menelpon atau sekedar chat tetapi selama piket alhamdulillah ada temen di sana jadi tidak terlalu suntuk untuk mengisi kekosongan saya membantu teman dalam membuat konten ppkpt.

Saya menyadari bahwa setiap orang tentu pernah merasakan berbagai macam emosi seperti senang, sedih, marah, kecewa, cemas, atau takut. Namun, setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menghadapi emosi tersebut. Ada orang yang dapat menyampaikan apa yang dirasakan dengan terbuka, tetapi ada juga yang lebih memilih menyimpan semuanya sendiri. Dari pembelajaran yang saya dapatkan, saya mulai memahami bahwa semua emosi pada dasarnya merupakan hal yang wajar, tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengelola emosi tersebut dengan baik.

Selain itu, saya juga mempelajari pentingnya self-awareness atau kesadaran diri. Saya memahami bahwa mengenali diri sendiri merupakan langkah awal untuk memahami orang lain. Dengan memahami kondisi diri, seseorang dapat lebih menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, mengetahui hal-hal yang dapat memengaruhi suasana hati, serta lebih mampu mengontrol respons ketika menghadapi suatu situasi.

Melalui pembelajaran ini, saya mulai melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Saya mencoba memahami bagaimana cara saya menghadapi tekanan, bagaimana saya merespons suatu masalah, dan bagaimana saya mengelola perasaan ketika menghadapi situasi tertentu. Saya menyadari bahwa proses memahami diri sendiri merupakan proses yang tidak instan, tetapi membutuhkan waktu dan kemauan untuk terus belajar.

Pengalaman selama bulan Juni ini memberikan pelajaran yang berharga bagi saya. Saya berharap pengetahuan yang diperoleh dapat membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peka terhadap kondisi diri sendiri maupun orang lain, serta dapat menjadi bekal dalam menjalankan peran sebagai konselor sebaya di masa yang akan datang.

Tinggalkan Komentar