Konselor Sebaya : Khansa Khairatun Hisan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala
Ada orang-orang yang tumbuh dengan pikiran negatif bukan karena mereka terlahir pesimis, melainkan karena hidup pernah terlalu keras kepada nya, hingga ia kesulitan untuk percaya bahwa semuanya bisa baik-baik saja. Rasa curiga, rasa takut dikecewakan, hingga bisikan cemas bahwa “semuanya akan berakhir sama saja”, itu semua sebenarnya bukan sifat asli seseorang. Semua itu adalah mekanisme pertahanan diri, cara mereka melindungi diri dari luka masa lalu yang belum sempat sembuh.
Kadang-kadang, hal yang paling dibutuhkan bukanlah seseorang yang terburu-buru memberikan solusi, atau dengan mudahnya berkata untuk jangan berpikir negatif terus. Yang paling dibutuhkan adalah kehadiran seseorang yang mau duduk bersama, mendengarkan ceritanya sampai selesai, dan tidak menghakimi setiap pikiran yang terlontar, meskipun pikiran itu dipenuhi oleh amarah, kecurigaan, atau luka yang menganga. Sebab, pemulihan tidak akan pernah datang dari paksaan untuk selalu berpikir positif, melainkan dari rasa lega karena akhirnya diperbolehkan jujur tentang apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Setiap orang pada dasarnya berhak mendapatkan ruang aman seperti itu. Sebuah ruang yang menaruh kepercayaan bahwa dirinya lebih tahu apa yang ia butuhkan, ruang yang tidak tergesa- gesa memberikan penilaian, serta ruang yang membuat ia tersadar bahwa pikiran negatif itu bukanlah identitas dirinya. Pikiran itu hanyalah jejak dari apa yang pernah ia lewati di masa lalu. Dan jejak tersebut, sepelan apa pun jalannya, tetap bisa diproses dan disembuhkan, asalkan ada seseorang yang tulus mau menemani prosesnya.

