AURA MERIA MAITASHA .

Alter Ego

Konselor : AURA MERIA MAITASHA
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Pernahkah kamu berada di suatu situasi lalu tiba-tiba berpikir, “Kok tadi aku bisa seberani itu, ya? Kayak bukan aku yang biasanya”. Perasaan asing ini sebenarnya sangat lumrah terjadi. Dalam dunia psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan alter ego, yaitu sebuah identitas kedua yang sengaja dibentuk oleh seseorang. Berbeda dengan topeng kepura-puraan, alter ego adalah mekanisme pertahanan sekaligus adaptasi mental yang membantu kita menghadapi situasi-situasi menantang yang tidak mampu diatasi oleh kepribadian utama kita sehari-hari.

Seringkali kita terjebak pada stigma bahwa memiliki dua kepribadian berarti kita “bermuka dua” atau tidak jujur pada diri sendiri. Padahal, jika kita melihat panggung hiburan dunia, nama-nama besar seperti Beyoncé menciptakan karakter “Sasha Fierce“ agar bisa tampil menggelegar dan sensual di panggung, mengalahkan sifat aslinya yang pemalu. Begitu juga dengan Adele yang pernah menggunakan karakter “Sasha Carter“ untuk mengatasi demam panggungnya. Kehadiran alter ego di sini bukan untuk menipu orang lain, melainkan sebuah jembatan psikologis yang memberi kita suntikan rasa percaya diri, keberanian, dan ketangguhan secara instan saat dibutuhkan.

Secara ilmiah, proses ini mirip dengan teknik self-distancing atau mengambil jarak dari diri sendiri. Ketika kamu harus melakukan presentasi penting atau berbicara di depan umum, kecemasan sering kali melumpuhkan identitas aslimu. Dengan mengaktifkan alter ego misalnya membayangkan dirimu sebagai seorang pembicara ulung yang dingin dan karismatik kamu sedang memisahkan emosi negatifmu dari tugas yang harus diselesaikan. Karakter buatan ini berfungsi sebagai “perisai” sekaligus saluran bakat yang selama ini terpendam di balik rasa minder kepribadian utamamu.

Namun, batas antara strategi adaptasi yang sehat dan gangguan psikologis terletak pada satu kata kunci: kesadaran. Selama kamu tahu kapan harus mengaktifkan karakter tersebut dan kapan harus kembali menjadi diri sendiri, alter ego adalah alat yang sepenuhnya aman, bahkan sangat berguna. Kamu memegang kendali penuh atas navigasi identitas tersebut. Menariknya, alter ego yang sering diasah lama kelamaan bisa melebur dan memperkaya kepribadian utamamu, membuatmu tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh di dunia nyata.

Pergeseran baru menjadi masalah medis ketika kendali sadar itu hilang. Saat karakter kedua mengambil alih kesadaran secara penuh tanpa kamu inginkan, dan kamu bahkan mengalami amnesia atau lupa ingatan tentang apa yang dilakukan oleh karakter tersebut, di titik inilah kondisinya berubah menjadi Dissociative Identity Disorder (DID) atau yang awam kenal sebagai kepribadian ganda. Jadi, selama kamu masih bisa “keluar-masuk” dari karakter kedua tersebut dengan sengaja, memiliki alter ego bukanlah sebuah penyakit. Itu adalah bukti betapa kreatif dan adaptifnya pikiran manusia dalam bertahan hidup.

Mulutmu Adalah Harimaumu

Konselor Sebaya: AURA MERIA MAITASHA
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Syiah Kuala

Teman teman tau tidak istilah “mulut mu adalah harimau mu?” istilah ini sering sekali kita dengar, entah itu dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan pertemanan, lingkaran yang terus berputar putar dikehidupan kita. Namun sebagian orang menyepelekan istilah tersebut dan masih menganggap istilah tersebut dari orang tua. yang iyaa gen Z sekarang menganggap mitos mitos atau omongan dari orang tua itu sangat tidak masuk akal di kepala. Namun tau tidak ini bukan sekedar mitos atau istilah yang bisa kita abaikan.

Mulutmu adalah harimaumu, istilah ini sekarang harusnya di pakai untuk anak anak muda sekarang yang kalau berbicara itu asal ngomong aja. Tanpa melihat sisi negatif dan positif untuk orang yang menerima omongan kita, ayo kita cek studi yang membahas kekuatan kata kata terhadap psikologi seseorang. ayo kita cek studi yang membahas Neuropsikologi Kata.

Menurut penelitian dari Andrew Newberg, otak kita bereaksi sangat cepat terhadap kata-kata negatif. Satu kalimat kasar saja sudah cukup untuk memicu hormon stres di otak orang yang mendengarnya. Jadi, ini bukan cuma soal ‘baper’ atau mitos orang tua, tapi emang ada penjelasan ilmiahnya kalau mulut kita bisa beneran ‘menerkam’ mental orang lain.

Ternyata, ucapan yang keluar dari mulut kita bukan Cuma angin lalu ya. Secara ilmiah, kata-kata yang menyakitkan bisa mengaktifkan bagian otak yang sama dengan saat kita merasakan sakit fisik. Jadi, istilah ”sakit hati” itu bukan sekedar kiasan, namun rasanya beneran nyata. Apalagi di era yang serba cepat sekarang, dengan adanya media sosial, jempol dan mulut kadang lebih cepat dari pada pergerakan otak. Kita lupa bahwa satu kalimat ”asal ngomong” bisa menghancurkan kepercayaan diri seseorang atau bahkan merusak hubungan yang sudah
dibangun bertahun-tahun.

Jadi mau kita sering dibilang gen Z mau nya ini lah itulah asal ngomong lah atau julukan lainnya, mindset ”asal ngomong” ini harus di kontrol. Mengontrol apa yang kita ucapkan bukan berarti kita jadi kolot yaa.. tapi itu adalah bentuk cerdas emosional. Sebelum bicara, coba deh tanya ke diri kita sendiri ”kira-kira kalau kalimat ini diucapkan ke aku, aku bakal sakit hati gak ya?”. Karena pada akhirnya, harimau itu bisa balik menerkam diri kita sendiri kalau enggak di jaga dengan benar, stay mindful with your words!